Sate Gule Kambing, Menasbihkan Diri Sebagai Kasta Tertinggi di Ponorogo saat Idul Fitri
Saat Lebaran, Sate Gule Kambing menjadi primadona kuliner Ponorogo, menggeser nasi pecel. Daging lembut, kuah kaya rempah, dan warung-warung legendaris jadi magnet pemudik.
PONOROGO – Jika selama ini publik mengenal Nasi Pecel sebagai ikon kuliner Ponorogo, maka saat momentum Lebaran tiba, peta gastronomi di Tanah Reog seolah bergeser. Sate Gule Kambing kini menasbihkan diri sebagai "kasta tertinggi" dalam hirarki makanan khas setempat. Tekstur daging yang lembut dipadu dengan kuah gule yang kaya rempah menjadikannya menu paling dicari, bahkan disebut-sebut lebih universal dan mudah diterima lidah lintas daerah dibanding kuliner lainnya.
Antrean panjang kendaraan dengan pelat nomor luar kota menjadi pemandangan lazim di depan ratusan rumah makan sate gule yang tersebar di seantero Ponorogo setiap Idul Fitri. Bagi para perantau, pulang ke Ponorogo belum lengkap tanpa menyesap kuah gule yang gurih dan menyantap sate kambing khasnya yang tidak menggunakan bumbu kacang, melainkan bumbu kecap dengan racikan rahasia.
Fenomena ini membuktikan bahwa Sate Gule Kambing memiliki daya pikat yang lebih kuat bagi pemudik asal Jakarta, Surabaya, hingga luar Jawa dibandingkan nasi pecel yang cenderung lebih tersegmentasi.

Salah satu titik episentrum kuliner ini berada di Jalan Trunojoyo. Di sana, Warung Sate Gule Mbah Jambul menjadi destinasi wajib yang tak pernah sepi. Kesibukan di dapur warung Sate Gule meningkat drastis begitu menginjak hari kemenangan.
Sukadi, sang pemilik warung, mengakui bahwa lonjakan permintaan saat Lebaran selalu berada di luar nalar hari-hari biasa. Jika pada hari normal ia sudah memiliki pelanggan setia, maka saat Idulfitri, warungnya berubah menjadi medan "pertempuran" rasa bagi ratusan orang.
"Alhamdulillah, setiap Lebaran memang selalu ramai. Kalau hari biasa konsumsi daging stabil, tapi saat libur Lebaran, setiap harinya kami bisa menghabiskan setidaknya dua ekor kambing hanya untuk mencukupi permintaan pemudik," ujar Sukadi.
Menurut Sukadi, kunci mengapa sate gulenya tetap bertahan di posisi puncak adalah konsistensi rasa. Kuah gulenya yang kental namun tidak enek, serta teknik pembakaran sate yang pas, membuat para pemudik selalu rindu untuk kembali.
Para penikmat kuliner menilai Sate Gule Kambing Ponorogo memiliki profil rasa yang lebih "bersahabat". Berbeda dengan sate kambing daerah lain, sate di sini memiliki potongan daging yang lebih tipis namun lembut, serta penyajian gule yang disajikan panas-panas dalam piring bersama nasi putih.
Dengan ratusan rumah makan Sate Gule yang tersebar di berbagai tempat, bukan sekadar bisnis kuliner, melainkan pilar ekonomi yang menggerakkan sektor peternakan dan pariwisata di Kabupaten Ponorogo.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


