Sambut Ramadan, Keluarga Keraton Surakarta Gelar Tradisi Ruwahan di Makam Tegalsari Ponorogo
Prosesi ini menjadi momentum sakral bagi keluarga keraton untuk merawat ikatan sejarah sekaligus spiritual dengan salah satu ulama besar tanah Jawa, Kiai Ageng Muhammad Besari.
PONOROGO – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 H, keluarga besar Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar tradisi ziarah Ruwahan di kompleks Makam Tegalsari, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo, Minggu (8/2/2026).
Prosesi ini menjadi momentum sakral bagi keluarga keraton untuk merawat ikatan sejarah sekaligus spiritual dengan salah satu ulama besar tanah Jawa, Kiai Ageng Muhammad Besari.
Rombongan keluarga keraton yang hadir dipimpin KPH Edy S Wirabhumi dan GKR Koes Murtiyah Wandansari (Gusti Moeng).
Turut serta dalam barisan ziarah tersebut GKR Ayu Koes Indriyah beserta kerabat dekat Kasunanan Surakarta lainnya.
Suasana khidmat menyelimuti area Masjid Jami’ Tegalsari saat rombongan mulai merapalkan doa dan tahlil di depan pusara Kiai Ageng Muhammad Besari.
Ritual diakhiri dengan prosesi tabur bunga yang menjadi simbol penghormatan kepada sang guru besar.
Gusti Moeng menjelaskan bahwa ziarah Ruwahan ini bukan sekadar tradisi rutin, melainkan sebuah ikhtiar batiniah.

Menurutnya, Tegalsari memiliki tempat khusus di hati keluarga Surakarta karena peran Kiai Ageng Muhammad Besari sebagai penasihat spiritual sekaligus guru dari Paku Buwono II.
"Tradisi Ruwahan ini adalah bentuk penghormatan kami kepada leluhur. Selain mendoakan, ini adalah cara kami membersihkan hati dan menata niat sebelum memasuki bulan suci Ramadan," ujar Gusti Moeng di sela-sela kegiatan.
Hubungan antara Surakarta dan Tegalsari memang terjalin erat melalui garis keturunan Kanjeng Kiai Bagus Hasan Besari, yang memperkuat ikatan emosional dan historis antara pusat kebudayaan Jawa dan pusat penyebaran Islam di Ponorogo tersebut.
Sementara itu, KPH Edy S Wirabhumi menekankan pentingnya menjaga sanad (garis keturunan) dan sejarah agar generasi muda tidak kehilangan jati diri.
"Tegalsari adalah kawah candradimuka bagi para pemimpin Jawa terdahulu. Kehadiran kami di sini adalah untuk menyambung doa sekaligus memastikan nilai-nilai luhur yang diajarkan Kiai Ageng Besari tetap lestari di lingkungan keluarga keraton dan masyarakat luas," ungkapnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.


