Lebaran Kupatan di Malang Raya, Tradisi Syawal yang Sarat Makna dan Kebersamaan
Lebaran Kupatan menjadi tradisi masyarakat Jawa Timur sekitar seminggu setelah Idul Fitri. Di Malang Raya tradisi ini juga dikenal sebagai Rioyo Lontong dengan hidangan khas ketupat dan jangan orem-orem.
MALANG – Perayaan Idul Fitri bagi sebagian masyarakat di Jawa Timur tidak berhenti pada hari pertama Lebaran. Sekitar tujuh hari setelahnya, warga kembali merayakan tradisi yang dikenal sebagai Lebaran Kupatan, yang identik dengan hidangan ketupat beserta berbagai lauk khas.
Di wilayah Malang Raya, tradisi ini memiliki penyebutan yang berbeda. Masyarakat di Malang lebih mengenalnya sebagai Lebaran Kupatan, sementara warga Kota Batu menyebutnya Rioyo Lontong. Meski berbeda nama, keduanya memiliki makna yang sama, yakni momentum berbagi hidangan khas seperti jangan orem-orem yang dipadukan dengan lontong atau ketupat serta kue lepet.
Tradisi ini biasanya dilaksanakan sekitar satu pekan setelah Hari Raya Idul Fitri dan menjadi salah satu cara masyarakat menjaga silaturahmi setelah momen Lebaran.
Secara historis, tradisi Lebaran Kupatan sering dikaitkan dengan dakwah tokoh Wali Songo, Sunan Kalijaga. Dalam sejumlah kisah budaya Jawa, tradisi kupatan diperkenalkan sebagai bagian dari pendekatan dakwah Islam yang memadukan nilai-nilai agama dengan tradisi masyarakat setempat.
Kata kupatan sendiri dipercaya berasal dari ungkapan Jawa “ngaku lepat”, yang berarti mengakui kesalahan. Makna tersebut selaras dengan semangat Idul Fitri sebagai momen saling memaafkan setelah menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadan.
Selain itu, bentuk ketupat juga memiliki filosofi tersendiri. Anyaman janur yang rumit melambangkan berbagai kesalahan manusia, sementara nasi putih di dalamnya menjadi simbol kesucian setelah seseorang saling memaafkan.
Di sejumlah daerah di Jawa Timur seperti Malang, Tulungagung, Blitar, hingga Trenggalek, tradisi ini juga kerap dikaitkan dengan selesainya puasa sunah enam hari di bulan Syawal. Setelah menjalankan puasa tersebut, masyarakat kemudian merayakannya dengan membuat ketupat dan berbagai lauk pendamping.
Di Malang Raya, salah satu hidangan yang sering disajikan adalah jangan orem-orem, yaitu masakan berbahan tempe yang dimasak dengan santan dan bumbu seperti bawang merah, bawang putih, cabai, daun salam, serta lengkuas. Cita rasanya yang gurih membuat hidangan ini cocok dipadukan dengan lontong maupun ketupat.
Evi, salah satu warga Kota Batu, mengatakan bahwa di lingkungannya tradisi tersebut biasanya dilakukan dalam bentuk kajatan atau selamatan sederhana di tingkat RT.
“Biasanya seminggu setelah Lebaran orang-orang membuat ketupat dan jangan orem-orem. Lalu pergi selamatan ke mushola di tiap RT untuk berdoa,” ujarnya.
Menurutnya, sebagian warga juga memilih membagikan hidangan tersebut kepada tetangga sebagai bentuk berbagi rezeki.
“Kadang juga dibagikan ke tetangga, walaupun biasanya mereka juga sudah memasak menu yang sama. Tapi itu sudah jadi kebiasaan,” tambahnya.
Tradisi Lebaran Kupatan maupun Rioyo Lontong menunjukkan bagaimana budaya kuliner masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Jawa Timur. Meski sederhana, hidangan ketupat, lontong, dan jangan orem-orem memiliki makna simbolis tentang kebersamaan, saling memaafkan, serta berbagi rezeki.
Hingga kini, tradisi yang dilakukan sekitar satu pekan setelah Idul Fitri tersebut masih dijaga oleh masyarakat di berbagai daerah seperti Malang, Tulungagung, Blitar, hingga Trenggalek sebagai bagian dari warisan budaya yang terus hidup dari generasi ke generasi.(*)
Pewarta: Firyanka Mirna Wahita
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


