Kacang Klici, Tradisi Gurih di Meja Lebaran yang Tak Lekang Oleh Waktu
Bagi masyarakat di wilayah Jawa Timur, khususnya Ponorogo dan sekitarnya, Lebaran rasanya belum genap tanpa kehadiran butiran kacang mungil nan renyah ini.
PONOROGO – Di tengah gempuran aneka kue kering modern dan cokelat impor yang mengisi toples-toples kristal saat Lebaran tiba, ada satu kudapan klasik yang tetap kokoh mempertahankan eksistensinya: Kacang Klici.
Bagi masyarakat di wilayah Jawa Timur, khususnya Ponorogo dan sekitarnya, Lebaran rasanya belum genap tanpa kehadiran butiran kacang mungil nan renyah ini.
Kacang klici bukan sekadar camilan; ia adalah simbol ketelatenan.
Berbeda dengan kacang goreng biasa, proses pengolahan kacang klici membutuhkan kesabaran ekstra, mulai dari pemilihan bahan baku hingga teknik penggorengan tradisional yang menjaga aromanya tetap khas.
Simbol Pelestarian Tradisi

Salah satu perajin yang masih setia melestarikan kudapan ini adalah Dewi, seorang pembuat kacang klici rumahan di Ponorogo, yang kebanjiran pesanan setiap kali Idul Fitri menjelang.
Ditemui di sela kesibukannya memproduksi pesanan, Selasa (10/3/2026), Dewi menyebut bahwa kacang klici baginya adalah jembatan memori antara masa lalu dan masa kini.
"Kacang klici itu punya tempat tersendiri di hati masyarakat. Meski sekarang banyak kue-kue kekinian yang tampilannya jauh lebih cantik, pelanggan saya tetap mencari yang klasik. Ada rasa kekeluargaan dalam setiap gigitannya," ujarnya.
Dewi menjelaskan bahwa rahasia kelezatan kacang buatannya terletak pada bumbu rempah yang meresap sempurna dan tekstur yang tidak keras namun tetap garing.
"Lebaran itu momen berkumpul. Saat tamu datang, ngobrol santai sambil menikmati renyahnya kacang klici itu suasananya jadi lebih akrab. Saya ingin setiap orang yang mencicipi kacang ini merasa seperti pulang ke rumah," tambahnya dengan senyum optimis.
Eksistensi di Tengah Modernisasi
Fenomena tetap bertahannya kacang klici membuktikan bahwa tradisi kuliner memiliki daya tahan yang luar biasa. Di pasar-pasar tradisional hingga toko oleh-oleh, penganan ini selalu menjadi buruan utama.
Harganya yang terjangkau namun memiliki cita rasa "mewah" di lidah menjadikannya primadona yang inklusif bagi semua kalangan.
Menjelang Idul Fitri 1447 H, permintaan pasar diprediksi akan terus meningkat.
Bagi para perajin seperti Dewi, ini bukan sekadar urusan bisnis, melainkan dedikasi untuk memastikan bahwa warisan rasa dari nenek moyang tetap bisa dinikmati oleh generasi mendatang di hari kemenangan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



