Minta Dimasukkan Dapodik, Ratusan Guru Honorer Demo ke DPRD dan Pemkab Ponorogo
Ratusan guru honorer Ponorogo tuntut dimasukkan Dapodik. (FOTO: Olin for TIMES Indonesia)

Minta Dimasukkan Dapodik, Ratusan Guru Honorer Demo ke DPRD dan Pemkab Ponorogo

Forum Guru Honorer Ponorogo menyampaikan, aksi ini bukan bentuk perlawanan terhadap pemerintah daerah, namun hanya ingin keberadaan mereka diakui.

TIMES Ponorogo,Selasa 26 Mei 2026, 14:08 WIB
994
M
M. Marhaban

PONOROGORatusan guru honorer di Kabupaten Ponorogo melakukan aksi damai menyampaikan aspirasi mereka di depan gedung DPRD dan Kantor Pemkab Ponorogo. 

Ratusan guru honorer tersebut meminta pemerintah daerah segera membuka akses dan memasukkan para guru honorer ke dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik).

Ketua Forum Guru Honorer Ponorogo, Mahmud Hanuri menyampaikan, aksi itu bukan bentuk perlawanan terhadap pemerintah daerah, namun hanya ingin keberadaan mereka diakui.

"Kami guru honorer non-Dapodik di Kabupaten Ponorogo itu ada dan nyata. Kami tidak berniat buruk kepada pemerintah daerah, tetapi kami minta keberadaan kami diakui," kata Mahmud kepada wartawan, Selasa (26/5/2026).

Ia juga menyebutkan bahwa kunci persoalan tentang pengakuan terhadap para guru honorer ini ada di pemerintah dae segera ada regulasi agar para guru honorer bisa masuk dalam sistem Dapodik.

"Saya minta segera ada regulasi untuk kami semua dimasukkan ke dalam data pokok pendidikan," jelasnya.

Menurut Mahmud, aksi kali ini fokus pada satu tuntutan, yakni masuk ke dalam Dapodik. Sebab seluruh program pemerintah pusat bagi guru selama ini berbasis pada data tersebut.

Ia mengungkapkan, akses Dapodik di Ponorogo sudah ditutup sejak 2020. Padahal menurutnya sejumlah daerah lain masih membukanya hingga 2024.

"Dapodik 2020 ditutup, padahal kabupaten lain itu 2024 juga masih bisa," ungkap Mahmud.

Tak sedikit guru honorer non-Dapodik yang sudah mengabdi bertahun-tahun. Bahkan ada di antara mereka yang telah mengajar hingga 10 tahun namun belum terdata.

"Paling lama ada yang 10 tahun. Ada juga yang sejak 2016 masih belum masuk Dapodik," imbuh Mahmud.

Terkait alasan belum dibukanya akses Dapodik, Mahmud menyebut pemerintah daerah berdalih anggaran pegawai di Ponorogo sudah melebihi batas.

Meski demikian, pihaknya mengaku siap apabila insentif yang diterima kecil, asalkan status mereka diakui dalam sistem pendidikan nasional.

"Kami siap sebenarnya tidak ada insentif atau insentifnya kecil, yang penting tidak membebani daerah," ujar Mahmud.

Selama ini, para guru honorer non-Dapodik hanya mengandalkan gaji dari sekolah. Sumbernya pun beragam, mulai dari infak komite hingga dana BOS.

"Kalau gaji dari guru-guru non-Dapodik ini dari sekolah. Mungkin dari infak komite atau dana BOS," jelasnya.

Ia memastikan para guru tersebut sama sekali belum mendapat bantuan langsung dari pemerintah karena belum terdata secara resmi.

"Rata-rata gaji guru honorer non-Dapodik di tingkat sekolah dasar hanya sekitar Rp 250 ribu per bulan," tukas Mahmud. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:M. Marhaban
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Ponorogo, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.