Agar Pemakaian Obat Pereda Nyeri Tidak Ganggu Puasa, Simak Caranya
Bagi yang sakit, pemakaian obat pereda nyeri itu penting. Tapi, perlu diperhatikan caranya agar tidak mengganggu puasa selama Ramadan.
TIMESINDONESIA – Bulan Ramadan adalah momen ibadah yang sangat dinanti. Namun, dalam praktiknya, tidak sedikit orang yang tetap harus mengonsumsi obat, termasuk obat pereda nyeri (analgesik). Sakit kepala, nyeri gigi, pegal linu, hingga nyeri haid sering kali muncul tanpa mengenal waktu. Pertanyaannya, bagaimana agar penggunaan obat pereda nyeri tidak mengganggu puasa dan tetap aman bagi kesehatan?
Apoteker sekaligus dosen Farmakologi Akafarma Sunan Giri Ponorogo Nasruhan Arifianto, mengajak masyarakat lebih bijak dalam menggunakan obat pereda nyeri selama berpuasa.
Secara umum, obat pereda nyeri yang sering digunakan masyarakat terbagi menjadi dua kelompok besar yaitu analgesik antipiretik yaitu parasetamol dan metampiron. Obat ini relatif aman untuk lambung dan bisa menjadi pilihan pertama untuk nyeri ringan hingga sedang seperti sakit kepala atau demam. Parasetamol jarang menyebabkan iritasi lambung, sehingga lebih nyaman diminum saat sahur atau setelah berbuka.
Berikutnya adalah obat anti inflamasi non steroid (OAINS), seperti Ibuprofen, Asam Mefenamat, Natrium Diklofenak. Golongan ini efektif meredakan nyeri dan peradangan, tetapi memiliki risiko mengiritasi lambung.
Dalam kondisi puasa, lambung kosong dalam waktu lama, sehingga risiko perih, mual, bahkan luka lambung bisa meningkat bila obat ini diminum tanpa makanan.
Berpuasa membuat pola makan berubah drastis. Lambung kosong selama ±12–14 jam. Jika kita mengonsumsi obat anti nyeri tertentu tanpa memperhatikan waktu dan cara minum, beberapa risiko bisa terjadi seperti nyeri ulu hati, mual dan muntah bahkan bisa jadi gangguan fungsi ginjal jika kurang cairan.
Obat anti nyeri jenis OAINS dapat mengganggu lapisan pelindung lambung. Pada saat puasa, kondisi ini bisa terasa lebih berat karena tidak ada asupan makanan.
Tips Aman Menggunakan Obat Pereda Nyeri saat Puasa
Agar ibadah tetap lancar dan kesehatan terjaga, perhatikan beberapa hal yaitu minum obat setelah berbuka atau saat sahur, hindari minum obat saat perut benar-benar kosong, terutama untuk golongan OAINS.
Utamakan parasetamol untuk nyeri ringan. Jika hanya sakit kepala ringan atau pegal biasa, parasetamol bisa menjadi pilihan pertama.
Jangan melebihi dosis. Banyak orang berpikir semakin banyak obat, semakin cepat sembuh. Ini keliru dan berbahaya. Ikuti aturan pakai pada kemasan atau sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Konsultasi bila memiliki penyakit tertentu seperti Penderita maag kronis, gangguan ginjal, hipertensi, atau penyakit jantung perlu lebih berhati-hati. Jangan ragu berkonsultasi dengan apoteker atau dokter.
Obat pereda nyeri memang membantu, tetapi penggunaannya harus bijak. Jangan sampai niat menjaga ibadah justru terganggu oleh efek samping obat yang sebenarnya bisa dicegah.
Kunci utamanya adalah kenali jenis obatnya, perhatikan waktu minum, dan jangan ragu berkonsultasi kepada apoteker atau dokter saat menggunakan obat. Puasa lancar, kesehatan tetap terjaga. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.


