Festival Kaligrafi Internasional 100 Tahun Gontor Pukau Tokoh Muslim AS dan Dubai
Agenda bergengsi yang berlangsung di New Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM) ini mendapat apresiasi tinggi dari para maestro dan tokoh Muslim mancanegara.
PONOROGO – Gelaran Festival Kaligrafi Internasional dalam rangka Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) sukses menyedot perhatian dunia.
Agenda bergengsi yang berlangsung di New Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM) pada 8–10 September 2026 tersebut mendapat apresiasi tinggi dari para maestro dan tokoh Muslim mancanegara.
Salah satu sorotan datang dari Imam Mohamad Bashar Arafat, tokoh Muslim asal Amerika Serikat.
Ia mengaku sangat kagum dengan kedalaman karya serta kreativitas para peserta yang didominasi oleh para santri.
Menurutnya, karya khat yang terpajang tidak sekadar mengandalkan keindahan visual, tetapi juga mencerminkan kedalaman bakat generasi muda Islam.
"Kaligrafi yang ditampilkan para peserta menunjukkan tingginya kemampuan dan kreativitas mereka. Ini menjadi bukti nyata bahwa para santri benar-benar berbakat dan memiliki potensi besar di kancah global," ujar Bashar Arafat saat meninjau pameran karya.
Kesan mendalam juga disampaikan oleh kaligrafer asal Dubai, Bassem Zbeb. Ia menilai iklim kompetisi dan interaksi antarseniman dalam ajang ini menghadirkan kehangatan tersendiri yang sulit didapatkan di ruang digital.
"Partisipasi langsung dalam perlombaan ini jauh lebih hangat dibandingkan sekadar berinteraksi melalui media sosial. Berkomunikasi dan berbagi pengalaman secara tatap muka dengan para peserta menjadi momen yang sangat indah," ungkap Bassem.
Sementara itu, Pimpinan PMDG KH Hasan Abdullah Sahal menegaskan bahwa Festival Kaligrafi Internasional ini memiliki nilai strategis sebagai jembatan silaturahmi sekaligus pilar syiar Islam.
KH Hasan Abdullah Sahal pun menekankan pentingnya ajang ini sebagai wadah pemersatu seniman khat dari berbagai penjuru dunia.
"Festival ini bukan sekadar ajang unjuk keindahan seni, melainkan sarana mempererat persaudaraan antar-kaligrafer dari berbagai daerah dan negara," tuturnya.
Mengusung tema Menulis Peradaban, Merawat Warisan, Menuju Abad Kedua Gontor, Kiai Hasan juga menyampaikan pesan mendalam terkait spirit di balik perhelatan tersebut.
Ia menegaskan bahwa seni kaligrafi adalah bagian integral dari identitas dan sejarah peradaban Islam yang harus terus dijaga keautentikannya.
"Melalui tema Menulis Peradaban, Merawat Warisan, Menuju Abad Kedua Gontor, kita diingatkan bahwa goresan pena para kaligrafer adalah upaya mengabadikan nilai-nilai luhur agama dan sejarah," ujar Kiai Hasan.
"Memasuki usia satu abad, Gontor berkomitmen untuk terus merawat warisan adiluhung ini sekaligus mengukir kontribusi peradaban baru yang mencerahkan dunia," pungkasnya.
Perhelatan abadinya seni khat Islam di BPPM ini pun menjadi salah satu monumen penting dalam rangkaian peringatan 100 tahun PMDG, menegaskan peran pesantren dalam merawat tradisi keharmonisan dan kebudayaan Islam global. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

