100 Tahun Gontor, Wamenag Tekankan Peran Strategis Pesantren bagi Masa Depan Bangsa
Pondok Modern Darussalam Gontor merayakan 100 tahun berdiri melalui Sarasehan Nasional yang memperkuat sinergi pesantren dan negara dalam pengembangan pendidikan Islam.
PONOROGO – Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) resmi menginjak usia satu abad. Momentum bersejarah tersebut ditandai dengan digelarnya Sarasehan Nasional yang mempertemukan ulama, umara, serta sejumlah tokoh strategis nasional di Ponorogo, Sabtu (20/6/2026).
Perayaan 100 Tahun Gontor berlangsung khidmat dan menjadi penanda perjalanan panjang salah satu lembaga pendidikan Islam terbesar di Indonesia dalam membangun peradaban dan mencetak kader umat serta pemimpin bangsa.
Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Dr. H.R. Muhammad Syafi'i, hadir dalam kegiatan tersebut sebagai representasi dukungan pemerintah terhadap eksistensi Pondok Modern Darussalam Gontor. Selain Wamenag, sejumlah tokoh nasional dan ulama turut memadati Balai Pertemuan PMDG.
Kehadiran para tokoh bangsa dalam Sarasehan Nasional 100 Tahun Gontor dinilai menjadi sinyal kuat semakin eratnya kolaborasi antara dunia pesantren dan para pengambil kebijakan. Sinergi tersebut diharapkan menjadi fondasi dalam merumuskan arah baru dakwah dan pendidikan Islam di tengah tantangan global yang semakin kompleks.
Dalam sambutannya, Wakil Menteri Agama RI, Dr. H.R. Muhammad Syafi'i, menyampaikan apresiasi pemerintah atas konsistensi Gontor selama satu abad dalam menjaga nilai-nilai keislaman sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

"Kehadiran kami di sini adalah bentuk pengakuan negara atas dedikasi tanpa henti Gontor selama seratus tahun. Gontor telah membuktikan diri sebagai poros strategis peradaban Islam di Indonesia. Masa depan dakwah dan pendidikan umat tidak bisa dilepaskan dari peran pesantren," ujarnya.
Menurutnya, pemerintah berkomitmen memperkuat kolaborasi dengan pesantren agar nilai-nilai kemandirian dan kebangsaan yang diajarkan Gontor terus menginspirasi kebijakan pendidikan nasional.
Sementara itu, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, menegaskan bahwa usia satu abad bukan sekadar perayaan, tetapi momentum untuk mengukuhkan kembali garis perjuangan Gontor yang independen dan berorientasi pada kemaslahatan umat.
"Satu abad ini bukan sekadar tentang perayaan angka, melainkan tentang komitmen menjaga amanah para pendiri. Gontor sejak lahir berdiri di atas dan untuk semua golongan. Kami mendidik manusia, bukan sekadar mencetak sarjana," tegas KH Hasan Abdullah Sahal.
Menurutnya, kehadiran para tokoh bangsa dan pemimpin pemerintahan menjadi kehormatan sekaligus pengingat bahwa sinergi antara ulama dan pemegang amanah negara merupakan kunci bagi keselamatan umat.
Sarasehan Nasional 100 Tahun Gontor juga menghasilkan sejumlah poin strategis terkait peta jalan pendidikan Islam memasuki abad kedua. Fokus pembahasan meliputi penguatan literasi digital berbasis nilai moral pesantren, integrasi sains modern tanpa mengurangi pendalaman kitab kuning, serta penguatan jaringan alumni global untuk mendukung diplomasi perdamaian dunia.
Memasuki usia satu abad, Pondok Modern Darussalam Gontor menegaskan perannya tidak hanya sebagai saksi sejarah, tetapi juga sebagai aktor penting yang siap mengawal arah baru pendidikan dan dakwah Islam di masa depan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

