TIMES PONOROGO, PONOROGO – Satu bulan menjelang bulan suci Ramadan, gema tahlil dan lantunan doa mulai bersahutan di kompleks Masjid Jami dan Makam Tegalsari, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo.
Arus peziarah dari berbagai penjuru daerah mulai menunjukkan peningkatan signifikan. Fenomena tahunan ini menjadi potret kerinduan spiritual masyarakat terhadap sosok Kiai Ageng Muhammad Besari, sang maestro penyebar Islam di tanah Jawa.
Pantauan TIMES Indonesia di lokasi, Minggu (18/1/2026) siang, menunjukkan deretan bus pariwisata dan kendaraan pribadi berpelat nomor luar kota—seperti Surabaya, Semarang, hingga luar Jawa - memenuhi area parkir.
Para peziarah tidak hanya datang untuk beribadah di masjid bersejarah yang dibangun pada abad ke-18 tersebut, tetapi juga untuk melakukan doa bersama di pusara para aulia.
Peningkatan jumlah pengunjung ini bukan tanpa alasan. Bagi banyak kalangan, berziarah ke Tegalsari sebelum Ramadan dianggap sebagai sarana pembersihan jiwa atau tazkiyatun nafs. Kedalaman sejarah Tegalsari yang pernah menjadi pusat intelektual Islam nusantara menjadi daya tarik utama.
Menanggapi fenomena ini, Imam Bajuri, seorang tokoh agama asal Tulungagung, memberikan pandangan spiritualnya. Saat ditemui di sela-sela kegiatannya, ia menekankan bahwa tradisi ini memiliki dimensi hikmah yang sangat luas.

"Ziarah di bulan-bulan menjelang Ramadan, seperti Rajab dan Sya'ban, itu penuh dengan hikmah. Ini bukan sekadar ritual budaya, tapi momen untuk mengingat kematian (tazkiratul maut) agar hati kita lebih lembut dan siap menerima keberkahan Ramadan," ujar Imam Bajuri.
"Dengan berkunjung ke makam para kekasih Allah, kita mengharap percikan karomah dan semangat perjuangan mereka dalam beribadah," imbuhnya.
Tak hanya dimensi spiritual, membludaknya peziarah juga membawa berkah bagi sektor ekonomi mikro di sekitar desa Tegalsari. Para pedagang pernak-pernik, makanan khas, mulai sibuk melayani para tamu yang datang silih berganti selama 24 jam.
Pihak pengelola makam, Tomo, memprediksi puncak kunjungan akan terjadi pada akhir bulan Sya'ban, di mana jumlah peziarah bisa mencapai ribuan orang per harinya.
"Kami sudah mempersiapkan protokol kenyamanan dan keamanan guna memastikan kekhusyukan para peziarah tetap terjaga," kata Tomo, juru kunci makam KH Muhammad Besari Tegalsari. (*)
| Pewarta | : M. Marhaban |
| Editor | : Ronny Wicaksono |